Eksistensi lingkungan makin terancam. Fungsinya yang bersifat jangka panjang guna menyangga kehidupan telah dirusak oleh keinginan mendapatkan keuntungan jangka pendek. Eksploitasi menjadi tak terkendali. Sementara di sisi lain, hukum tidak lagi mampu dijalankan dengan efektif di lapangan.
Perusakan alam juga berlangsung akibat praktik-praktik tidak sehat dari pelaku industri dan segelintir anggota masyarakat. Sehingga dari waktu ke waktu, fungsi alam sebagai penjaga siklus hara tanah, reservasi air, penahan erosi dan sebagai tempat mempertahankan keanekaragaman hayati telah berkurang secara signifikan. Akibatnya, bencana alam kerap melanda.
Dalam kitab suci Alquran, Allah SWT telah memperingatkan umat manusia tentang bahaya yang dapat terjadi bila kelestarian lingkungan alam tidak dijaga dengan semestinya. “Bila pengrusakan alam terus berlanjut, bencana tinggal menunggu waktu,” ujar dai yang juga dosen Universitas Islam Negeri Jakarta KH Otman Umar Shihab.
Menurut dia, upaya penyelamatan alam dari kerusakan harus segera dilakukan. Dan hal ini dimulai dari membangun kesadaran diri sendiri. “Tanpa itu, niscaya manusia akan tetap mengabaikan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya,” katanya. Kepada wartawan Republika Yusuf Assidiq, Ustadz Othman bercerita banyak mengenai dalil-dalil agama yang peduli lingkungan. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana Islam menilai alam?
Sesungguhnya, manusia adalah sebagai pemegang amanah dari Allah SWT di muka bumi. Dan seharusnya ini diakui sebagai sebuah kemuliaan yang luar biasa diberikan Allah. Oleh karena itu, jika terjadi kerusakan-kerusakan terhadap alam, hal tersebut bisa dikatakan merupakan pengkhianatan terhadap amanat Allah. Seperti dalam berfirman-Nya, “Akan timbul kerusakan di laut dan di bumi akibat ulah manusia.” Dari sini bisa dijelaskan bahwa jauh-jauh hari Allah telah memberikan satu peringatan akan tingkah laku manusia.
Kita lihat, bukan satu dua orang yang celaka, tetapi berjuta-juta manusia bakal menderita akibat berbagai bencana alam lantaran hutan-hutan ditebangi secara serampangan. Nah bagi manusia yang bijak dan sadar, dia tidak akan berbuat perusakan kecuali melakukan aktivitas bermanfaat terhadap lingkungan hidupnya.
Seperti tergambar dalam perjalanan haji, para jamaah diperintahkan ‘berkomunikasi’ dengan empat pihak, yakni kepada Allah, sesama manusia, lingkungan hidup, dan sekaligus hewan. Ketika dia betul-betul sebagai haji mabrur, tercermin kehidupannya tersebut empat lingkungan tadi. Tetapi disaat dia tidak lagi mengingat amanat itu, maka dia telah mengkhianati sunatullah. Alquran mengatakan, “Mereka bagaikan hewan ternak bahkan lebih rendah dari itu.”
Mengapa dalam diri manusia muncul keinginan-keinginan untuk mengeksploitasi alam tanpa memikirkan akibatnya?
Kendati manusia dikaruniai perasaan dan hati, namun hati mereka tidak berfungsi lagi dan telah tertutup terhadap nilai-nilai kebaikan. Padahal, Allah memerintahkan manusia untuk melestarikan serta memberikan manfaat bagi kesinambungan alam sekitar. Nah inilah yang kita sangat sesalkan, sebagian umat Muslim juga turut melakukan tindakan perusakan. Hingga pada hakekatnya, dia bukanlah seorang Muslim melainkan seorang hamba yang tidak lagi bertakwa.
Allah menginginkan kita sadar bahwa manusia telah diserahkan satu amanah yang demikian besar guna mengarungi kehidupan ini. Sebab sejatinya, kita hidup bukan hanya sekedar untuk satu generasi, tapi terus menerus. Oleh karenanya Allah juga telah memberikan arahan-arahan bagaimana seharusnya manusia bertindak dan bertingkah laku secara bijaksana di muka bumi. Dengan demikian, upaya pelestarian dan menjaga kondisi lingkungan menjadi perhatian besar agama Islam.
Seperti disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, bahkan bila kita menyingkirkan duri dari jalan, akan mendapatkan pahala yang besar. Terlebih bila kita menanam pohon. Begitu pula, jika kita menebang pohon sembarangan, dosanya sangatlah besar. Itu baru hal yang kecil dicontohkan Rasulullah. Belum lagi yang besar.
Dan ingatlah bahwa manusia diberikan akal, akan tetapi terkadang akal terpaksa dikalahkan oleh nafsu kita. Sehingga pada akhirnya kita hanya akan berorientasi pada penumpukan kekayaan pribadi. Tetapi jika sudah terjadi perusakan hutan dan lingkungan secara besar-besaran, niscaya Allah akan amat mengecam. “Orang-orang yang merusak dimuka bumi adalah orang-orang yang merugi di dunia dan akherat.”
Kendati peringatan dari Allah berupa bencana alam telah terjadi, namun manusia tetap saja melakukan perusakan. Bukti bahwa manusia sudah begitu abai terhadap ajaran agama?
Tidak ada sesuatu yang zalim kecuali dia akan mendapatkan kerugian di dunia ini sebelum di akherat. Kezaliman yang bisa kita lihat saat ini adalah munculnya sifat egois, memperkaya diri sendiri, merusak lingkungan alam. Jadilah kemudian, orang seperti ini tidak memiliki hubungan baik dengan hablum kaum-nya. Inilah yang paling berbahaya ketika manusia dalam hidupnya cuma mempedulikan kesejahteraan diri sendiri dan kelompoknya saja.
Sebagai seorang Muslim, maka kita harus sadar bahwa upaya pelestarian merupakan tanggungjawab bersama. Bersamaan dengan itu, penegakan hukum harus benar-benar berjalan. Jika tidak ada kesadaran itu, akan habislah lingkungan alam kita dalam waktu tidak terlalu lama.
Memang disadari, kerusakan alam sudah pada taraf memprihatinkan. Bila kita terbang di atas Kalimantan misalnya, kita akan lihat betapa hutan-hutan di sana telah banyak yang gundul. Ini kan wujud nyata dari keserakahan manusia yang seolah tidak punya lagi rasa malu di hadapan Allah SWT.
Dan manusia tidak lagi mensyukuri nikmat Allah dengan cara yang semestinya?
Ya, bila melihat kenyataan yang kini terjadi, pada dasarnya sebagian manusia tidak bisa mensyukuri karunia Allah setelah diberikan kekayaan alam melimpah ruah. Oleh karena itu, bagaimana seharusnya kita bersikap yakni menumbuhkan kesadaran yang dimulai dari dirimu sendiri dalam rangka memelihara alam. Paling tidak, tanamlah sebatang pohon. Rasulullah menyatakan, “Tanamlah pohon sekarang dan itu akan bermanfaat bagi anak cucumu kelak.”
Lantas bagaimana cara yang efektif untuk dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri kita masing-masing?
Kesadaran manusia memang bertingkat-tingkat. Dengan begitu, seharusnya instrumen hukum menjadi salah satu yang diharapkan dapat memperbaiki keadaan. Sekarang kita lihat, negara ini dikaruniai kekayaan alam luar biasa melimpah, tapi mengapa krisis ekonomi tak juga berakhir justru krisis moral serta ketamakan makin membesar. Korupsi merajalela dari tingkat atas hingga ke level paling bawah dan itu bukan rahasia lagi. Sehingga, kita sebagai orang beriman, mulailah memperbaiki diri dari kita sendiri. Apa yang dapat dilakukan untuk mencapai suatu kebaikan, lakukanlah dengan memohon petunjuk Allah.
Perlu diingat, bahwa untuk membangun kesadaran diri tentu membutuhkan proses. Dan itu perlu ditunjang pengetahuan dan proses pembelajaran. Masalahnya saat ini tidak gampang mencari biaya pendidikan yang murah. Bagaimana mau membangun SDM berkualitas bila belum apa-apa sudah terbentur hal-hal seperti itu. Jadi dalam masalah ini, pendidikan merupakan sarana terpenting guna membangun kesadaran pribadi.
Bagaimana seharusnya pemerintah, pengusaha dan masyarakat berperan guna memulihkan kondisi lingkungan yang telah rusak parah ini?
Janganlah berharap dari siapa pun. Gantungkan hidup ini pada diri masing-masing. Dahulu, Rasulullah tidak pernah mengharapkan pembesar-pembesar pada waktu itu untuk memeluk Islam. Keikhlasan adalah intinya, kita butuh keikhlasan dari oarng-orang yang ikhlas. Insyaallah, dari sesuatu yang kecil bila dikerjakan dengan ikhlas, akan mendatangkan keberkahan dari Allah. Dan yang besar tanpa keikhlasan bakal hancur.
http://www.republika.co.id/berita/20277/KH_Othman_Umar_Shihab_Manusia_Melupakan_Amanah_Allah
Hi salam kenal,
Blognya bagus!!!
Kunjungin blog saya,
http://dithoap.wordpress.com