RAMADHAN merupakan bulan penuh keberkahan dan momentum untuk memperbanyak amal serta menambah ilmu. Karena itu, sebagai bentuk upaya berbagi ilmu dan menambah amal (ibadah), Penerbit Salamadani Pustaka Semesta menggelar kegiatan diskusi buku.
Buku yang didiskusikan adalah “Api Sejarah: Peran Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia” karya Ahmad Mansur Suryanegara. Acaranya berlangsung pada Kamis, 3 September 2009, pukul 15.30- 17.45 WIB di Gramedia, Matraman, Jakarta. Narasumber yang mengisi diskusi adalah Prof.Ahmad Mansur Suryanegara (penulis dan sejarawan Muslim) dan dipandu oleh Tasaro GK (penulis buku bestseller Galaksi Kinanthi).
Ahmad Mansur Suryanegara, dosen luar biasa di jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaiora UIN Sunan Gunung Bandung ini kembali membuka persoalan sejarah yang ditutup oleh rezim Orde Baru. Buku yang diterbitkan Salamadani Pustaka Semesta ini isinya membongkar sejarah yang disembunyikan, khususnya kezaliman kaum nasionalis dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), penghilangan jejak peran ulama dan organisasi Islam dalam menegakkan NKRI, dan membongkar perselingkuhan kaum priyayi dengan penjajah Belanda.
Salah satunya tentang “gugatan” tentang hari kebangkitan nasional dan pembeberan beberapa organisasi pergerakan Indonesia yang sebenarnya tidak berjuang untuk Indonesia, tetapi untuk penjajah. Menurut penulis, yang pertama memperjuangkan gerakan nasional adalah Syarikat Islam, bukan Boedi Oetomo. Pada masa itu sengaja didirikannya organisasi Boedi Oetomo adalah untuk menandingi gerakan umat Islam yang bernama Jamiat Choir (hal.319). Bahkan, ada Serikat Dagang Islamiyah di Bogor merupakan tandingan dari Syarikat Dagang Islam (hal.326) yang kehadirannya mengkhawatirkan eksistensi perekonomian dan kepentingan imperialisme Belanda.
Ahmad Mansur Suryanegara juga menyajikan fakta tentang penghinaan terhadap Rasulullah saw yang dilakukan Partai Indonesia Raja (Parindra) pimpinan Dr.Soetomo dengan menurunkan artikel di Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937 (hal.508). Lebih banyak lagi persoalan sejarah yang dibongkar dalam buku Api Sejarah ini. Bahkan, menurut penulisnya, pahlwan nasional Sisingamaraja dan R.A Kartini itu beragama Islam dan sang Saka Merah Putih (bendera Indonesia) sebagai bendera Rasulullah saw.
Dalam bukunya, “kejahatan” orang-orang sekuler (pada masa lalu dan yang masih hidup) yang berperan dalam panggung sejarah Indonesia sangat tampak. Hadirnya buku-buku sejarah nasional atau Indonesia (yang ditulis para “sejarahwan istana”) telah mengekecilkan peran umat Islam dan tokoh-tokoh Islam terdahulu dalam membangun NKRI. Semangat membongkar “topeng” kepalsuan sejarah dan mewujudkan tentang pentingnya memahami sejarah inilah yang tampaknya sedang digaungkan dalam buku “Api Sejarah” ini.
Jelas, buku karya Ahmad Mansur Suryanegara ini kritis, dan tajam. Karena itu, buku sejarah seperti ini sudah harus menjadi bacaan “wajib” bagi generasi sekarang yang akan melangkah dan membuat sejarah masa depan Indonesia.
Pastinya, buku ini mengusik kesadaran generasi baru tentang sejarah sebenarnya yang sudah tertanam di benak sejak sekolah dasar. Mungkin agak terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Saya bukan sejarawan tapi membaca tulisan di atas saya agak kurang sreg dengan bagian tulisan yang menyebut kalau Boedi Oetomo didirikan untuk menandingi Jamiat Khoir. Dari beberapa literatur yang saya baca, Jamiat Khoir pada masa didirikan itu didominasi oleh orang-orang Arab dan keturunan Arab di Indonesia dan kurang memberi ruang bagi warga pribumi untuk belajar di sekolah yang mereka dirikan. Mereka pun terbatas di Batavia saja. Selain itu Jamiat Khoir juga elitis dan ekslusif, akibatnya salah satu gurunya yang terkenal keluar dan bergabung dengan Al Irsyad (kalau tidak salah) yang lebih egaliter dan mau membaur dengan pribumi. Hanya memang Jamiat Khoir itu sudah menerapkan sistem organisasi modern yaitu memiliki struktur yang jelas, dan ada AD/ART. Boedi Oetomo sendiri mau tidak mau terpengaruh oleh kehadiran Jamiat Khoir. Apakah ia menandingi? Wallahu alam. Tentang dipilihnya Boedi Oetomo sebagai ikon awal kebangkitan nasional karena inilah organisasi modern pertama bentukan pribumi dan memperjuangkan cara baru (lewat organisasi) untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang nasibnya, sedangkan Jamiat Khoir kan bukan pribumi.
Kalau keliru mohon diluruskan.
silakan baca bukunya… Mas biar lebih enak ngupasnya…
silakan baca bukunya… Mas biar lebih enak ngupasnya… atau ikuti diskusinya…
Silahkan baca buku tetralogi buru episode “jejak langkah” karya pramoedya ananta toer. Pram menulis ttg syarikat dagang islam.
[...] kang Ahsa bekerja, dan beliau ini juga yang jadi jajaran editor (selamat n sukses kang kapan diskusi buku di Bandung? ) telah terbit buku “API SEJARAH” Buku yang akan mengubah drastis pandangan anda [...]
[...] tempat kang Ahsa bekerja, dan beliau ini juga yang jadi jajaran editor (selamat n sukses kang kapan ada diskusi di Bandung?) telah terbit buku “API SEJARAH” Buku yang akan mengubah drastis pandangan anda tentang [...]