KERUMUNAN PEMABUK
Di sekitar sufi tak kutemukan
Kelezatan yang kudamba
Di biara tak terdengar
Musik yang cinta mencipta
Di madrasah tak bisa kubaca
Buku apa saja dari si sobat
Di menara susah sungguh ditemukan
Suara darinya untuk disimak
Dalam cinta-buku tak kulihat
Wajah cantik bertutup cadar
Dalam susastra-suci tak kudapat
Jejak-jejak sang nasib
Di rumah berhala sepanjang usia hamba
Dalam kecongkakan terhabiskan saja
Dalam perkumpulan sesama kulihat
Tak penawar tak juga lara
Lingkar pencinta kujelang musti
Pelipur lara mungkin di sana
Dari kebun mawar sang kekasih
Sepoi angin atau sebentuk jejak
“Aku”dan ” Kita,” dari akal keduanya
Dialah tali tuk memintalnya
Dalam kerumunan para pemabuk
Tak ada “Aku” tak pula “Kita”
GAIRAH PENCINTA
Wahai, hati itu bukan hati
Yang pada rupawanmu tak cinta
Wahai, sang bijak tak bestari
Yang pada tampanmu tak mendamba
Wahai, pencinta, hatinya gairah menyala
Gairahlah semua dalam anggurmu
Biarkan bagiku gairah ini sendiri
Apa lagi yang hidup ini kandungi
Siapa campakkan daku di gurun
Cinta ‘lah padamu O, sahabatku
Tindak ‘pa lagi dapat selamatkanku
Tak kunjung tampak tepian gurun
Jika pencinta bergairah menyala
Sisikan ayo dirimu segera
Antaramu dan dia apa pun tiada
Hanya dinding diri-jumawa
Jika kau pelancong jalan-pencinta
Campakkan sajadah campakkan jubah
Tiada pembimbing, hanya cinta
Dalam cinta kuyuplah andika
Jika memang pencinta-benar
Jangan jadi sufi saleh segala
Kar’na tak masuk lingkar-pencinta
Selain kumpulan pencinta saja
Dambaku main rambut-pilinnya
Apa yang buruk padanya apa yang hina
Satu sentuhan gila satu elusan liar
‘Pa lagi bisa beri cinta, hai pander
Raih tanganku, dan lepaskan
jiwaku dari kemunafikanjubah ini.
Karna jubah ini bukan apa
Selain pelindung si jahil
Ilmu dan irfan sisihkan saja
Ke rumah anggur mereka tak bawa
Tapi di tempat istirah pencinta
Kepalsuan, pasangannya tiada
Kilas-Pandang Kekasih
Kasihku, hidupku bermula
Dan berakhir di pintumu
Coba saja kuhabiskan di sana
Tak lagi kubutuh sesuatu apa
Di kedai, masjid, dan biara
Dan lantai kuil-berhala
Aku merunduk dalam asa
‘Kan kau berkahiku dan memuja
Tak ‘kan madrasah temukan penawar
‘Tuk susahku, tak pula sang wali
Wahai, keluarkanku dari galau ini
Oleh kilasmu sebelum pingsanku
Wahai, penuh cinta-diri sang sufi itu
Itulah sejauh yang kutahu
Wahai, beri aku penglihatanmu
Biar bening hatiku s’lalu
T’lah kucampakkan cinta-diriku
Kar’nanya saja kini kuada
Wahai, arahkan pandang-agungmu
padaku sari-pati yang hina
Hidup bak biksu t’lah kupilih
Demi kekasih di balik cadar
Biar oleh pandang-cintanya
Jadi gelegak-samudra tetes ini
LUNGLAI PEMABUK
Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kujadi debu di jalannya
Saat kutinggalkan hidup deminya
Saat jadi pencinta-sejatinya kuhanya
Wahai, (kudamba) hari itu
Saat segelas ramuan jiwa
Kut’rima dari tangan-lembutnya
Dan, dalam lupa dua dunia
Terantai di untaian rambutnya
Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kepalaku di telapaknya
Ciuminya hingga hidup usai saja
Dan jadilah aku, hingga kiamat tiba
Mabuk dari gelasnya
Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kuterbakar bagai pencinta
Selalu saja deminya, dan nanar
oleh wajah-manisnya
dalam bengongnya si pemabuk
Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kumabuk kepayang
Dalam lunglai si pemabuk
Dan jadilah kutahu semua
Rahasia-rahasia- tersembunyinya
Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kudapati di ujung-ranjangku
Yusuf penyejuk-mataku
Dan jika tidak, seperti Ya’kub
Dibuai bau-harumnya
(Diambil dari buku “Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini”)
SiapaSihYangMasuk?