Jejak Kepenulisan: Sekadar Berbagi Pengalaman

Oleh AHMAD SAHIDIN

Bagaimana membuat tulisan renyah dan enak dibaca? Ini pertanyaan yang saya ajukan pada seorang editor dan pakar kepenulisan di Penerbit Mizan, Hernowo Hasim, yang saya kirim beberapa waktu lalu melalui sebuah e-mail. Dan, beberapa hari kemudian, ada balasan.

Menurut Hernowo, seorang penulis atau yang baru belajar menulis harus memulainya dengan memperbanyak baca buku-buku untuk memperkaya kosa-kata. “Perkayalah diri Anda dengan kata-kata. Banyaklah membaca buku-buku yang membuat Anda senang. Hanya dengan membaca, tulisan kita akan tidak membosankan. Jika kita ‘miskin kata/bahasa’ hasil tulisan kita juga akan monoton, tidak bisa mengalir enak,” tulis Hernowo.

Selanjutnya, ia harus mulai memilih dan memilah materi atau hal-hal yang akan ditulisnya. Jadi, pilihlah materi yang akan ditulis yang memang sudah menjadi bagian terdalam pengalaman diri sendiri. Libatkan benar diri ketika menulis. Jika diri terlibat, tulisannya akan kaya emosi dan menyentuh, tidak kering dan kaku.

”Pisahkan kegiatan mengeluarkan bahan tulisan dengan pengoreksian. Jangan mengoreksi saat Anda menulis. Keluarkan secara bebas bahan tulisan Anda hari ini, dan koreksi esok harinya. Semoga 3 tips itu bermanfaat bagi Anda. Saya akan coba kunjungi blog Anda,” tulisnya mengakhiri.

Oo… begitu caranya membuat tulisan yang enak dibaca dan tidak kaku itu. Tapi prose itu sebenarnya sudah saya lakukan sejak 2002 hingga 2003. Saya memulainya dengan membuat sebuat buletin Alternatif (Institute for Human and Cultural Studies), sebuah media kampus tingkat fakultas. Saya bersama tiga kawan membuatnya dengan dana dan digarap pun bersama. Tirasnya sekitar 25 eksemplar. Jumlah halamannya mencapai 6-8. Ukurannya setengah kertas kuarto.

Pada edisi perdana saya menulis pengantar dan kolom opini. Saya juga sajikan beberapa ulasan buku-buku terbaru. Seorang dosen langsung merespon positif. Ia jadi penyumbang dana, materi dan tulisan. Hingga beberapa dosen pun membincangkan perihal buletin tersebut. Saya sedikit bangga karena dalam pembicaraan mengenai kreatifitas mahasiswa fakultas, nama saya disebut-sebut. Tambah lagi ketika beberapa puisi dan esai pendek saya dimuat di HU. Pikiran Rakyat Bandung, makin ’pede’. Beberapa kawan dan dosen memberikan selamat atas prestasi intelektual tersebut. Sampai dosen jurnalistik saya bilang, “Ente tak usah masuk kuliah, nilai ente sudah ‘A’.”

Wow, karena prestasi menulis, saya tak usah cape-cape bangun pagi dan masuk kuliah. Beberapa teman saya langsung meminta saya untuk mengajarinya. Saya pun mengajarinya. Hanya waktu itu saya tak punya teori seperti yang disampaikan Hernowo.

Saya hanya membaca buku yang banyak tentang bahan yang akan ditulis. Kalau akan menulis esai atau artikel filsafat sejarah, baca dulu buku filsafat sejarah minimal 4 buku. Baru setelah itu akan meluncur, mengalir begitu saja. Atau kalau tulisannya sebuah curhat, ya tulis apa adanya. Begitu pun komentar, tulis saja. Goresan itu yang menjadikan saya terbiasa menggoreskan pena (menulis). Itu tips awal belajar tulis menulis yang saya gunakan.

Bila sudah berhasil menuliskannya, berarti sudah menulis. Tulisan itu kemudian dibaca berulang-ulang, ditimbang-timbang isinya, dan dinilai oleh sendiri. Dan setiap kali membaca yang saya tulis, ternyata banyak kurangnya. Saya pun menambah sana sini dan akhirnya tulisan pun panjang. Saya kaget, kok ternyata saya bisa juga menulis panjang. Ini yang ajaib buat saya. Padahal, jika saya memaksakan diri mengeluarkan atau menggores dua paragrap saja tak rampung, alias mandeg.

Tulisan yang sudah ditimbang dan ditambah kekurangannya, biasanya saya serahkan kepada teman dan kadang pada dosen. Saya minta mereka komentari. Biasanya mereka senang kalau diminta komentar dan perbaikan-perbaikan. Meski mereka bukan ahli tulis menulis, tapi biasanya jeli dan tahu letak kesalahan tulisan saya. Kadang ada yang suka meremehkan, bahkan bilang tidak bernilai. Abaikan omongan itu, lakukan terus menulis. Jangan berhenti dibilang ngayayai atau tidak sistematis. Tulisan yang bagus itu: yang Anda buat sendiri, dengan bahasa dan pikiran Anda. Bukan mengambil atau menyaplok dari yang lain.

Ketika sudah dikritisi, dikomentarin, dan ditunjuki letak salah dan kekurangannya—baik itu bahasa tulisan maupun isi tulisan (content)—saya biasanya segera memperbaikinya dan memuatnya dalam bulletin. Waktu perbaikan (revisi) itu waktunya bisa mencapai satu bulan. Karena kalau lagi semangat: inginnya terus memperbaiki dan tahu-tahu panjang dan isinya melebar. Jika sudah seperti, sebaiknya ambil catatan awal yang pernah dibuat. Di sinilah pentingnya dokumentasi catatan pertama (asli) dan yang dicorat-coret adalah kopiannya. Jangan merasa sayang dengan kertas kopian yang dicorat-coret, berkorbanlah untuk kemajuan intelektualmu! Selesaikanlah tulisan awal/pertama hingga benar-benar rampung dan betul dari tata bahasa. Kesal dan kadang mengutuk diri. Tapi itu bukti ”wujud” yang maujud; karena semuanya berproses menuju kesempurnaan.

Begitulah proses awal. Setelah bisa menyelesaikan tulisan pertama, saya bisa membuat tulisan yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dan akan terasa mengalir dan terasa begitu cepat. Akan banyak ide dan gagasan yang muncul. Jika banyak yang muncul: catat poin-poinnya dan kembangkan dalam bentuk tulisan. Cari dan baca buku-buku pendukung ide-ide tulisan.

Dalam proses kreatif yang saya jalani, salah seorang kolumnis Harian Umum Republika dan Pemimpin Redaksi Majalah Sunda Cupumanik, Hawe Setiawan, yang sempat saya minta komentarnya, menyarankan saya untuk melihat atau mencontoh alur dan gaya tulisan dari tokoh yang saya kagumi. Karena waktu itu saya lagi kagum pada catatan pinggir Gonawan Mohammad (GM) di Majalah Tempo, saya tiap sore sebelum menghadiri kajian selalu menyempatkan diri ke perpustakaan untuk membaca catatan pinggir GM. Berbundel-bundel Majalah Tempo lama pernah saya baca.

Hampir enam bulan saya baca Majalah Tempo dan buku-buku GM. Saya fokus, saya ingin meniru gaya tulisnya yang khas dan berbeda dari orang lain. GM: tulisannya sungguh hidup, renyah, tak ada kosa-kata atau kalimat yang mati. Seluruh kalimat dan kata-kata yang dipakainya berjalin-kelindan, menyatu-padu, dan tak kering. Ini kesan saya setelah membaca catatan pinggir GM. Jumlahnya mungkin sudah ribuan, bahkan lebih. Meski sudah usang wacana dan aktualitasnya, tapi bila dibaca, sepertinya punya “lokasi” tersendiri, sehingga saya tak merasa jemu atau merasa kadaluarsa ketika membacanya. Ini yang saya berbeda dan khas GM.

Satu lagi yang membuat saya begitu terpikat. Ia sosok yang luar biasa dalam khazanah Islam dan piawai dalam berkomunikasi, baik lisan mapun tulisan. Ya, tak salah lagi, Ustadz Jalaluddin Rakhmat (JR). Selain seorang ustadz, ia juga ahli dalam ilmu-ilmu rasional dan dikenal pakar komunikasi. Setiap kali saya baca buku-bukunya, terasa menyentuh dan bermakna. Meskipun tebal-tebal, buku JR biasanya saya lahap hingga habis (selesai satu buku).

Hal yang luar biasa dari penulisan JR adalah dalam menorehkan gagasannya yang seringkali diawali dengan kisah-kisah sufi yang menyentuh. Atau juga mengambil petikan kata-kata hikmah dari ulama-ulama dan tokoh-tokoh Islam. Bahasanya renyah dan mudah dicerna. Alurnya enak, mengalir, dan mudah diingat. Ini yang membedakannya dengan GM. GM bahasanya kadang filosofis dan berbelit-belit, bahkan cenderung tak mengerti kalau si pembacanya tak paham isi dan arah dari tulisannya itu.

Masa proses kreatif itu saya pun mengasah tulis-menulis dengan meluncurkan sebuah buletin Lateral yang diterbitkan Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) unit kegiatan mahasiswa IAIN, kini bernama UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya menulis bersama teman-teman. Namun sayang hingga kini belum ada yang meneruskan atau melanjutkan media tersebut. Padahal kalau biacara fasilitas, generasi LPIK sekarang lebih mudah dan terfasilitasi. Berkarya itu memang butuh kemauan yang kuat dan berani berbuat. Ini intinya, menurut saya.

Alhamdulillah, aktivitas saya dalam tulis menulis pun berbuah: akhir 2004 hingga Juli 2008 saya masuk redaksi Majalah Swadaya dan mengelola Buletin Keluraga Sakinah serta situs www.dpu-online.com—sebuah media pemberdayaan umat yang diterbitkan Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) yang berlokasi di Pesantren Daarut Tauhiid Bandung, pimpinan Aa Gym (KH.Abdullah Gymnastiar). Dari pesantren DT saya mulai mengenal kerja jurnalistik dan merambah dunia fotografi dan video shooting, serta dunia internet hingga punya beberapa blog sebagai ruang untuk ekspresi (curhat) plus menyimpan file-file atau jejak intelektual.

Selanjutnya, pada Juli 2008 saya diajak bergabung dengan penerbit buku di Bandung sebagai ghost writer (penulis bayangan) dan editor. Kerja saya tidak lepas dari sebelumnya: menulis, menyunting, dan memprovokasi orang agar mau membaca buku—dalam bentuk opini dan ulasan (resensi) di milis dan blog.

Harus saya akui bahwa sampai saat kini saya masih terus belajar tentang menulis yang baik, renyah, enak dibaca dan “bergizi”—istilah Hernowo—plus menggerakan pembaca. Itu sebabnya saya belajar, belajar, dan belajar—dari orang-orang yang tidak pernah lelah menorehkan pena.

PENULIS adalah pekerja buku dan jamaah milis

Tinggalkan Balasan