1001 Penyebab Putus Asa
“A’zhamul balaa, inqithaa ar-rajaa. Bencana yang paling besar adalah kehilangan harapan (putus asa).” Demikian sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang patut disikapi dengan langkah cepat di tengah keterpurukan ekonomi dan moral bangsa ini.
Saat ini dalam berbagai aspek kehidupan, kita mengalami krisis. Di bidang akidah bangsa yang mayoritas mengaku bertuhan Allah ini, tidak menunjukkan komitmen yang istiqamah (konsisten). Buktinya, di tengah malam banyak yang “takut” dan “menangis” di hadapan Allah, tetapi di siang hari banyak bersikap sebagai pencuri (koruptor), penyuap, penjilat, penipu, pemer¬kosa, pezina, penindas, dan lain-lain. Di antara kita banyak yang lupa akan kejadian yang menimpa kaum-kaum terdahulu yang diazab Allah karena pembangkangan dan pelanggaran mereka. Di antara kita juga seolah banyak yang melupakan adanya hari akhirat dan pertang¬gung¬jawaban di hadapan Allah.
Akidah bangsa kita, khususnya kaum muslim, seolah hanya menjadi jargon politik yang akan senantiasa didengungkan ketika tertindas atau diperintah, tapi diabaikan ketika sudah berkuasa. Kita mungkin lupa bahwa Allah tidak hanya meminta kita untuk beriman, tetapi juga harus beramal shalih. Mungkin akidah begini salah satu penyebab bangsa kita terpuruk, yang menyebabkan orang-orang berputus asa lagi kufur.
Di bidang ekonomi, sudah sangat jelas bahwa bangsa kita termasuk negara berkem¬bang yang semakin layu. Dulu kita masih bangga menyebut seseorang sebagai “Bapak Pemba¬ngun¬an”, karena posisinya, walaupun yang membangun orang lain. Dulu kita masih men¬de¬ngar adanya “Era Tinggal Landas”, walau ada yang sinis dengan mengatakan “Era Tinggal di Landasan”. Dulu tiap lima tahun, kita tawarkan program “Repelita/Pelita” dengan motto khas¬nya, dan banyak lagi yang lainnya. Namun, kini semua seolah hanya tinggal kenangan dan semua yang baik-baik seolah meninggalkan.
Saya ingat sekali, dulu satu dolar Amerika dengan harga seribu atau dua ribu sudah meru¬pa¬kan musibah, tetapi kini satu dolar dihargai lima ribu pun seolah mustahil bagi kita. Begitu pula jika kita bandingkan harga makanan, BBM (Bahan Bakar Minyak), pakaian, dan lain-lain sungguh jauh ber¬beda.
Mungkin ini juga menjadi penyebab bangsa kita terpuruk dan “dibodohi” pelaku-pelaku perma¬in-an dan pemilik uang lokal dan global. Apakah ini juga penyebab keterputusasaan kita?
Di bidang pendidikan yang diharapkan dapat melahirkan generasi penerus yang lebih berkualitas ternyata seolah jauh panggang dari pada api. Artinya, hasilnya SSTM (Sangat Sangat Tidak Memuaskan). Seperti dalam bidang politik atau ekonomi, kita disodori jargon pendidikan, seperti CBSA, link and match, MBS, dan kini KBK. Namun, yang terjadi seolah kita bingung atau merasa susah dengan apa yang sudah kita konsepkan jika berhubungan dengan dunia nyata.
Saya masih ingat betul, di tempat saya kuliah dulu banyak orang Malaysia yang menjadi Mahasiswa dan prestasinya jauh bila dibanding mahasiswa tuan rumah. Kini, “mereka” datang membawa senjata dan menunjukkan diri sebagai negara yang telah berhasil yang akan mencaplok negeri tetangga yang dulu mungkin tempat kuliahnya.
Namun, dalam hal ini saya masih bersyukur kepada Allah yang telah mengge¬rak¬kan tentara Malaysia ke Blok Ambalat, karena ternyata bangsa kita masih berani meneriakkan “Ganyang Malaysia, hancurkan Malaysia, dan …..”
Hal ini menunjukkan bahwa masih ada yang peduli dengan tempat kelahiran dan mungkin tempat kematiannya. Dengan ini pula, Allah mengingat¬kan bahwa kita termasuk teledor mengurus “Negara Merdeka Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa” dan membiarkan sumber dayanya disedot dan dikelola orang asing. Mungkin baru segini kemampuan pendahulu kita dalam mendidik kita. Apakah ini juga penyebab keterpurukkan bangsa yang dapat menyebabkan orang-orangnya berputus asa?
Di bidang politik dan hukum bangsa kita pun seolah masih sedang mencari bentuk. Masa orde lama, dengan sistem multi partai, bangsa kita cakar-cakaran dan pemerintahan pun silih berganti, kecuali presiden. Begitu pun dengan masa orde baru, dengan dua partai politik dan satu golongan karya, hanya melahirkan kemajuan semu. Kini orde telah berganti, dan sistem politik kita kembali multi partai dengan electorial tereshold-nya, hanya meneguhkan kem¬bali orang-orang yang memiliki “uang” dan “janji” ke puncak kekuasaan.
Sebenarnya, apanya yang salah dengan sistem politik kita? Dalam bidang hukum pun bangsa ini seolah mirip “rimba”, di mana sangsi hukum lebih banyak tertuju bagi kalangan lemah, sedangkan yang besar dan kuat, selamat. Begitu pula masih terjadi, yang salah asal dapat “menghilangkan bukti” akan selamat. Sedangkan yang benar yang tidak memanipulasi bukti banyak yang dihukum.
Contohnya adalah kasus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang tidak terbukti melakukan kesalahan secara hukum, tetapi malah dihukum. Namun seorang tokoh politik sebuah partai besar dan sudah terbukti secara hukum bersalah, tetapi divonis bebas sampai ia pun sujud syukur. Karena tempat terbatas, saya sudahi dulu pengungkapan fakta dari 1001 penyebab keterpu¬rukan dan mungkin keterputusasaan kita. Sebagai penutup kita kutip perkataan Ali bin Abu Thalib karamallahu wajhah dalam Nahjul Balaghah, “Janganlah engkau berputus asa karena kejelekan umat ini.”
AHMAD DIMYATI,
Editor Penerbit Grafindo Bandung
Januari 12, 2009 pada 12:18 pm
[...] 1001 Penyebab Putus Asa A zhamul balaa, inqithaa ar-rajaa. Bencana yang paling besar adalah kehilangan harapan (putus asa). Demikian sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang patut disikapi dengan langkah cepat di tengah keterpurukan ekonomi dan moral bangsa ini. Saat ini dalam berbagai aspek kehidupan, kita mengalami krisis. Di bidang akidah bangsa yang mayoritas mengaku bertuhan Allah ini, tidak menunjukkan komitmen [...] Posted by bebas Uncategorized Subscribe to RSS feed [...]