Bertanya Mengundang Ilmu

6 01 2009

Oleh JALALUDDIN RAKHMAT

Ada suatu hadits yang saya ambil dari kitab Kanzul ‘Ummal, yaitu hadits nomor 28.662. Seperti Anda ketahui, ada berbagai macam susunan hadits. Ada hadits yang disusun berdasarkan bab atau berdasarkan topik yang biasanya disebut dengan al-jami’, misalnya Shahih Bukharl, Shahih Muslim, dan sebagainya. Ada juga hadits yang disusun oleh ahli hadits berdasarkan rawinya. Kitab hadits seperti itu disebut dengan musnad; misalnya Musnad Ahmad. yang disusun oleh Imam Ahmad ibn Hanbal. Ada juga hadits yang disusun dengan mengurutkan dari huruf alif sampai ya’ berdasarkan awal hadits itu. Misalnya. Al-Jami’ Al-Shaghir yang disusun oleh Jalaluddin Al-Suyuthi. Jadi, kalau Anda ingin mencari hadits tentang ilmu, maka carilah pada huruf ‘ain, dan sebagainya.

Al-Muttaqi Al-Hindi (orang lndia), hadits dari kitab Al-Jami’ Al-Shaghir itu disusun kembali berdasarkan topik dan tidak berdasarkan urutan huruf. Kitab itu kemudian ia kumpulkan menjadi beberapa jilid tebal-tebal, dan ia beri nama kitab Kanzul’Ummal (Perbendaharaan Orang-orang yang Beramal). Hadits-hadits dalam kitabnya itu, Kanzul ‘Ummal, diberi nomor sampai puluhan ribu.

Hadits yang segera kita bicarakan disini diambil dari kitab Kanzul ‘Ummal, tetapi Anda juga dapat memeriksanya dalam kitab Al-Jami’ AI-Shaghir, pada huruf ‘ain. Rasulullah yang mulia bersabda: “Ilmu itu seperti perbendaharaan yang sangat berharga. Kuncinya adalah bertanya. Bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian; karena dalam hal bertanya itu, ada empat kategori orang yang diberi pahala. Orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengarnya dan orang yang menggemari mereka”.

Anda bayangkan, Rasulullah saw. waktu itu berkata kepada para sahabatnya bahwa beliau ingin menjelaskan ilmu-ilmu agama dengan menyuruh mereka bertanya. Hadits ini juga menegaskan pahala proses pencarian ilmu pengetahuan. Ilmu itu dimulai dengan bertanya. Malahan orang sering menyamakan dan membedakan antara filsafat dengan ilmu (sains). Persamaannya, kedua-duanya dimulai dengan bertanya, sedangkan perbedaannya ialah bahwa sains dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan. Sedangkan filsafat dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan yang lebih besar.

Ada sebuah buku yang menjelaskan bagaimana cara membaca buku yang baik supaya memperoleh pengetahuan dari buku itu. Langkah pertama, lihatlah daftar isi buku itu sehingga Anda mendapat gambaran tentang buku itu. Kedua, mulailah Anda bertanya dengan memperhatikan bab per bab, karena dengan bertanya akan menyebabkan Anda mengonsentrasikan kepada isi buku itu, dan segera tertarik untuk memperoleh jawaban. Ketiga, Anda membacanya dengan tujuan menjawab pertanyaan itu. Terakhir, melihat kembali catatan apa yang Anda baca.

Orang yang pintar biasanya selalu mempertanyakan sesuatu, dan orang yang bodoh itu selalu menerima. Anak kecil itu sebetulnya memiliki kecenderungan untuk bertanya, dan seringkali pertanyaannya amat bebas. Kalau sudah besar, kita mulai berpikir apakah ada yang harus kita tanya kan atau tidak, tetapi anak kecil tidak berpikiran seperti itu. Dan tidak jarang, orangtua membentak anak kecil itu, padahal dengan bertanya akan membuka perbendaharaan ilmu pengetahuan mereka. Bahkan ada peneliti yang mengatakan bahwa seandainya jiwa bertanya anak kecil itu bisa dipertahankan sampai dewasa. maka hampir dapat dipastikan bahwa semua orang akan menjadi ilmuwan.

Oleh karena itu, kita memahami mengapa Nabi yang mulia saw. menganjurkan untuk bertanya, dan mudah-mudahkan Allah akan menurunkan rahmat-Nya. Bertanya adalah pembuka (kunci) perbendaharaan ilmu pengetahuan.

Ada baiknya juga kalau kita mendidik anak-anak dengan sistem bertanya. Kalau saya ingin mengajarkan anak saya dalam pengajian kecil di rumah, saya mulai dengan bertanya. Ketika ingin menjelaskan kata fasiq dan mu ‘min yang terdapat dalam Al-Quran, misalnya, saya mulai dengan pertanyaan. Mereka akan menjawab sesuai dengan pengetahuan mereka.

Jadi, sebetulnya cara mengajar yang paling baik ialah mengajar yang dimulai dengan pertanyaan. Sang guru membawa suatu benda, kemudian bertanya kepada anak -anaknya, “Tahukah kalian, benda apakah ini?” Kemudian anak-anak mendiskusikan benda itu, sampai mereka menemukan sendiri apa hakikat benda itu.

Itulah metode yang paling baik, yang juga pernah ditatarkan kepada guru-guru di . Pada waktu itu, saya sebagai seorang guru pernah mendapatkan penataran itu. Akan tetapi setelah itu, para guru kembali lagi kepada metode mengajar yang lama. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin kita ini belum sampai kepada tahap sebagai bangsa yang selalu bertanya. Kita adalah bangsa yang tukang menjawab. Dalam parlemen, ada hak yang disebut sebagai “hak bertanya”, tapi hak itu hampir tidak pernah dipakai dalam parlemen.

Dahulu, para filosof sering mengajarkan filsafat dengan tanya-jawab. Sampai sekarangpun filosof sering mengambil metode filosof Socrates, untuk mengajarkan filsafat dengan metode tanya-jawab. Al-Quran pun seringkali memulai ayat-ayatnya dengan suatu pertanyaan. Misalnya, “Tahukan kamu orang-orang yang mendustakan agama?” (QS 107: 1) “Bertanya seorang penanya tentang azab yang akan tiba.” (QS 70: 1). Dalam bahasa Arab, bertanya itu disebut dengan istifham, yang berarti mencari pemahaman. Dan memang itulah tujuan bertanya yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Proses riset atau penelitian adalah proses bertanya yang lebih terdisiplin. Tetapi kadang-kadang kita bertanya tidak terdisiplin untuk menjawab pertanyaan itu. Misalnya, kalau kita bertanya, “Apakah bagus kalau membeli baju di pinggir jalan?” Lalu kita mencoba membeli baju satu atau dua kali di pinggir jalan. Hasilnya semuanya jelek. Lalu kita mengambil kesimpulan bahwa tidak bagus membeli baju dipinggir jalan. Menurut prinsip riset, kesimpulan itu tidak benar, karena hal itu menjawab pertanyaan yang tidak terdisiplin.

Kalau kita perhatikan hadits Rasulullah ini, kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah sangat menghargai usaha-usaha riset. Dan orang-orang yang terlibat dalam riset itu semuanya mendapatkan pahala. Kalau kita mencermati hadits ini, seharusnya negara-negara Islam adalah negara yang dipenuhi dengan lembaga riset itu karena semua orang terlibat di situ. Orang yang mencintainya mendapatkan pahala, dan orang yang mendengar laporan riset mendapat pahala. Akan tetapi justru menarik perhatian, kata Ziauddin Sardar, bahwa riset yang paling terbelakang adalah di negara-negara Islam.

Riset itu tidak harus pergi ke lapangan. Riset bisa dilakukan pada sebuah buku. Misalnya, mempelajari tarikh secara mendalam. Tentunya kita harus mempertanyakan apa yang ada di dalam tarikh itu, kemudian kita melakukan studi mendalam atau yang dinamakan studi kritis. Tetapi hal itu juga tidak banyak disenangi orang. Padahal setiap kali kita menemui tokoh dalam tarikh selalu timbul pertanyaan.

Menurut ajaran Rasulullah saw, orang yang selalu bertanya harus dihargai, harus kita bantu; atau kalau tidak, kita menjadi penggemarnya. Saya ingin mengulangi hadits tersebut. Ilmu itu peti perbendaharaan yang berharga dan kuncinya adalah bertanya. Banyaklah kamu bertanya semoga Allah merahmati kamu. Karena diberi pahala dalam bertanya itu empat orang, yaitu yang bertanya yang mengajar, yang mendengarkan, dan yang menggemarinya.

Karena bertanya itu diperintahkan, maka Islam mengatur beberapa cara bertanya. Pertama, kita disuruh bertanya yang sebaik-baiknya. Dalam hadits lain, Rasulullah saw. bersabda: “Pertanyaan yang baik itu sudah setengahnya dari ilmu pengetahuan.” Orang Barat mengatakan, “Bertanya yang baik sudah merupakan setengah jawaban. “Oleh karena itu, rumuskanlah pertanyaan itu dengan kalimat-kalimat yang jelas. Kedua, jangan bertanya yang mengganggu. Saya akan menunjukkan ucapan Sayidina Ali kw. kepada seseorang yang bertanya kepadanya. Suatu saat, Sayidin Ali berkata dalam khutbahnya, “Bertanyalah kalian kepadaku demi Allah. Tidaklah kamu bertanya tentang sesuatu sarnpai pada Hari Kiamat kecuali akan aku berikan jawabannya kepada kamu.” Lalu Ibn Al-Kawa’ bertanya, ”Ya amiral mu ‘minin, apa adz-dzariyatu dzarwa?” Sayidina Ali berkata, “Celaka kamu, bertanyalah untuk memahami dan janganlah kamu bertanya yang mengganggu.”Sebenarnya, orang yang bodoh yang selalu bertanya dan mau belajar sama nilainya dengan orang yang berilmu; Dan sesungguhnya orang yang berilmu yang sembrono menjawab pertanyaan sama dengan orang bodoh yang mengganggu dalam pertanyaan itu. Kita kadang-kadang bertanya dalam suatu majelis bukan untuk memahami, tapi untuk mengetes muballigh; atau kadang-kadang untuk memojokkan, dan kalau bisa muballigh itu ditangkap karena pertanyaan itu. Pertanyaan seperti itu, kata Sayidina Ali, bukanlah pertanyaan untuk mengetahui tetapi pertanyaan yang mengganggu. Seperti kasus Bani Israil, yang Anda kenal, ketika disuruh menyembelih sapi, mereka bertanya dengan pertanyaan yang begitu banyak sehingga makin beratlah persyaratan sapi yang harus disembelih itu. Padahal kalau Bani Israil itu tidak terlalu banyak bertanya tentu akan mudah mencari sapi itu.

Dengan kata lain, aturan yang ketiga itu, janganlah bertanya yang akibatnya itu akan menyulitkan kamu. Dalam agama, ada beberapa hal yang tidak dijelaskan, bukan berarti lupa. Akan tetapi supaya kalian bebas melakukan hal itu. Rasulullah saw. bersabda: “Tinggalkanlah aku dengan apa yang aku tinggalkan kepada kamu, karena binasanya orang yang sebelum kamu ialah lantaran banyaknya mereka bertanya dan ikhtilaf kepada nabi mereka. Apabila aku perintahkan kepada kamu sesuatu, lakukanlah semampu kamu dan kalau aku larang melakukan sesuatu, tinggalkanlah itu”.

Akhirnya, marilah kita ingat kembali pesan haditst di atas, yaitu bahwa ilmu itu adalah peti perbendaharaan yang berharga dan kuncinya adalah bertanya. Maka bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian. Karena dalam bertanya ada empat katagori orang yang diberi pahala. Yaitu orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengar dan orang yang menggemarinya.


Tindakan

Information

Satu tanggapan

18 06 2009
eji

Assalamu Alaikum. War. Wab
saya mohon maaf kalau pertanyaan saya ini tidak sesuai dengan ulasan diatas. dan saya mohon pencerahannya.
Hadits Riwayat Abdullah bin masud ra, ia berkata:
Rasulullah saw sebagai orang yang jujur dan bercerita kepada kami:
sesungguhnya setiap induvidu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama 40 hari (sebagai nutfah) kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging, selama itu pula allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh kedalamnya dan diperintahkan untuk menulis 4 perkara yaitu:
menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia menjadi orang yang sengsara ataukah orang yang berbahagia. demi zat yang tiada tuhan selain dia, sesunggunya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karna sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia kedalam neraka. dan sesungguhnya salah seorang diantara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karna sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah ia kedalam surga
No Hadits dalam kitab Sahih Muslim : 4781
Pertanyaan saya
1. apakah hadits ini betul?
2. kalau betul, apa gunanya allah menciptakan timbangan amal baik dan amal buruk diakhirat kelak?
3. apakah manusia tidak punya peran/andil untuk mengarahkan dirinya untu masuk surga, dan bagaimana dengan firman allah :
Allah tadak akan merubah nasib satu kaum, apabila kaum itu tidak merubahnya?
Saya Minta Toloooooooooooooooooooooooooooooooooong untuk dijawab karna saya bimbang setelah membaca hadits tersebut.
Wasallam

Tinggalkan komentar